Bahayanya kesalahan-kesalahan kecil adalah bahwa kesalahan-kesalahan itu tidak selalu kecil.
Kesalahan kecil bisa mengakibatkan kesalahan yang lebih besar. Bersamaan dengan kesalahan itu, persoalannya bisa menjadi besar pula. Maka kesalahan kecil pun harus segera dibetulkan. (Anonim)
Kamis, 22 Oktober 2009
MAMPU
Ada kalanya kita selalu ragu-ragu dengan segala Tujuan / tugas/ pekerjaan yang terlihat sanagt besar. Kita selalu menggangapnya sesuatu yang sangat berat dan tidak mungkin dapat kita laukan. Namun sebenarnya apabila hal yang besar tersebut kita perkecil dan dilakukan dengan konsisten secara terus menerus, maka hal yang semula kita anggap tidak mungkin untuk dilakukan , tidak mampu untuk mencapainya, namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita teryata mampu.
Yes.......Believe We Can!
(......Barack H. Obama)
Yes.......Believe We Can!
(......Barack H. Obama)
MENYONGSONG KEMATIAN
Pak Permana meninggal dunia," kata teman saya di telepon. Saya
terkesiap. Dua hari lalu saya sempat bertemu dengan Pak Permana.
Masih segar bugar. Kami ngobrol ngalor-ngidul, sambil bersenda gurau dan
tertawa-tawa. Tidak ada tanda-tanda sedikit pun hidup Pak Permana akan
sesingkat itu. Rupanya, Pak Permana terkena serangan jantung.
Sehabis bermain tenis, ia mengeluh dadanya sakit. Lalu, tidak lama
sesudah itu ia pingsan. Dalam perjalanan ke rumah sakit, ia mengembuskan
napasnya yang terakhir.
Begitulah hidup. Sangat ringkih. Bisa dibilang, kita ini berada di bawah
bayang-bayang kematian. Setiap saat kita bisa dijemput oleh kematian.
Kapan saja dan di mana saja. Tidak saja ketika usia kita sudah uzur atau
ketika tubuh sakit-sakitan. Namun juga saat kita "masih" di usia muda,
berada di puncak karier, dan di saat tubuh kita sehat. Kematian tidak
pandang bulu; tidak pandang usia; tidak pandang situasi dan kondisi
kita. Pemazmur bahkan mengibaratkan hidup kita ini seperti rumput; yang
di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, akan tetapi di waktu petang ia
sudah lisut dan layu.
Lalu bagaimana? Apakah kita pasrah dan pasif saja menjalani hari-hari,
sekadar untuk menunggu kematian datang? Tidak. Kesadaran bahwa kita bisa
kapan saja dijemput kematian seharusnya mendorong kita untuk hidup
dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Soal kapan pun kematian itu
datang menjemput, kalau kita sudah berusaha hidup bijak dan bajik di
dalam Tuhan, kita akan menghadapinya dengan tenang. Untuk itu, kuncinya
adalah berjaga-jaga senantiasa.
terkesiap. Dua hari lalu saya sempat bertemu dengan Pak Permana.
Masih segar bugar. Kami ngobrol ngalor-ngidul, sambil bersenda gurau dan
tertawa-tawa. Tidak ada tanda-tanda sedikit pun hidup Pak Permana akan
sesingkat itu. Rupanya, Pak Permana terkena serangan jantung.
Sehabis bermain tenis, ia mengeluh dadanya sakit. Lalu, tidak lama
sesudah itu ia pingsan. Dalam perjalanan ke rumah sakit, ia mengembuskan
napasnya yang terakhir.
Begitulah hidup. Sangat ringkih. Bisa dibilang, kita ini berada di bawah
bayang-bayang kematian. Setiap saat kita bisa dijemput oleh kematian.
Kapan saja dan di mana saja. Tidak saja ketika usia kita sudah uzur atau
ketika tubuh sakit-sakitan. Namun juga saat kita "masih" di usia muda,
berada di puncak karier, dan di saat tubuh kita sehat. Kematian tidak
pandang bulu; tidak pandang usia; tidak pandang situasi dan kondisi
kita. Pemazmur bahkan mengibaratkan hidup kita ini seperti rumput; yang
di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, akan tetapi di waktu petang ia
sudah lisut dan layu.
Lalu bagaimana? Apakah kita pasrah dan pasif saja menjalani hari-hari,
sekadar untuk menunggu kematian datang? Tidak. Kesadaran bahwa kita bisa
kapan saja dijemput kematian seharusnya mendorong kita untuk hidup
dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Soal kapan pun kematian itu
datang menjemput, kalau kita sudah berusaha hidup bijak dan bajik di
dalam Tuhan, kita akan menghadapinya dengan tenang. Untuk itu, kuncinya
adalah berjaga-jaga senantiasa.
Musafir Kelana
Kita di dunia adalah musafir kelana
Di sini bukan tempat tinggal berlama-lama
Hidup di dunia hanya sementara
Ke Akhirat sana tujuan kita
Di waktu musafir carilah barang-barang yang berguna sebanyak-banyaknya
Untuk dibawa pulang ke Akhirat sana
Jangan bawa barang-barang yang salah
Di sana nanti hukuman menunggu kita
Di waktu di dunia jangan kita lupa
Di dunia bukan tempat tinggal kita
Mau ataupun tidak mau kita terpaksa ke sana
Kalau tidak ada amal baik yang dibawa kecewalah kita
Ingatlah jangan kita terlalai
Berhati-hatilah dengan dunia yang menipu kita
Jika kita tersilap di dunia ini
Merana selamanya di Akhirat sana
Ingatlah sebelum terlambat…
BY; Abuya Ashaari Muhammad At Tamimi
Di sini bukan tempat tinggal berlama-lama
Hidup di dunia hanya sementara
Ke Akhirat sana tujuan kita
Di waktu musafir carilah barang-barang yang berguna sebanyak-banyaknya
Untuk dibawa pulang ke Akhirat sana
Jangan bawa barang-barang yang salah
Di sana nanti hukuman menunggu kita
Di waktu di dunia jangan kita lupa
Di dunia bukan tempat tinggal kita
Mau ataupun tidak mau kita terpaksa ke sana
Kalau tidak ada amal baik yang dibawa kecewalah kita
Ingatlah jangan kita terlalai
Berhati-hatilah dengan dunia yang menipu kita
Jika kita tersilap di dunia ini
Merana selamanya di Akhirat sana
Ingatlah sebelum terlambat…
BY; Abuya Ashaari Muhammad At Tamimi
Setongkol Jagung yang Terlupakan
Cerita Suku Indian Sioux Amerika : Diceritakan kembali oleh Marie L. McLaughlin in "Myths and Legends of the Sioux" ; 1913.
Seorang perempuan Arikara sedang mengumpulkan jagung dari ladang untuk disimpan guna cadangan musim dingin, Ia beringsut dari batang ke batang, memetik tongkol-tongkol jagung dan menjatuhkannya ke atas rok panjangnya yang dilipat.
Ketika semuanya telah terkumpul dan ia hendak beranjak pergi, ia mendengar suara merintih, seperti suara seorang bocah yang menangis dan memanggil-manggil : "Oh, jangan tinggal aku! Jangan pergi tanpa aku.”
Wanita itu terheran-heran. “Anak macam mana pula itu?,” bathinnya. “Anak siapakah yang tersesat di kebun jagung?”
Ia melepaskan ikatan rok panjangnya di mana ia menaruh jagungnya, dan berbalik untuk melakukan pencarian; namun ia tak menemukan apapun. Ketika ia hendak pergi didengarnya lagi suara itu,” Oh, jangan tinggal aku. Jangan pergi tanpa aku.”
Ia mencari cukup lama. Pada akhirnya, di sesudut ladang, tersembunyi di balik daun-daun batang jagung, ia menemukan setongkol jagung kecil.
Tongkol inilah yang tadi menangis, meratap-ratap. Semenjak peristiwa itu semua perempuan Indian kemudian memelihara ladang jagungnya dengan sangat hati-hati, sehingga tidak ada sebiji hasil pangan pun yang terlupakan atau terbuang, dan membuat kecewa sang Misteri Agung
Seorang perempuan Arikara sedang mengumpulkan jagung dari ladang untuk disimpan guna cadangan musim dingin, Ia beringsut dari batang ke batang, memetik tongkol-tongkol jagung dan menjatuhkannya ke atas rok panjangnya yang dilipat.
Ketika semuanya telah terkumpul dan ia hendak beranjak pergi, ia mendengar suara merintih, seperti suara seorang bocah yang menangis dan memanggil-manggil : "Oh, jangan tinggal aku! Jangan pergi tanpa aku.”
Wanita itu terheran-heran. “Anak macam mana pula itu?,” bathinnya. “Anak siapakah yang tersesat di kebun jagung?”
Ia melepaskan ikatan rok panjangnya di mana ia menaruh jagungnya, dan berbalik untuk melakukan pencarian; namun ia tak menemukan apapun. Ketika ia hendak pergi didengarnya lagi suara itu,” Oh, jangan tinggal aku. Jangan pergi tanpa aku.”
Ia mencari cukup lama. Pada akhirnya, di sesudut ladang, tersembunyi di balik daun-daun batang jagung, ia menemukan setongkol jagung kecil.
Tongkol inilah yang tadi menangis, meratap-ratap. Semenjak peristiwa itu semua perempuan Indian kemudian memelihara ladang jagungnya dengan sangat hati-hati, sehingga tidak ada sebiji hasil pangan pun yang terlupakan atau terbuang, dan membuat kecewa sang Misteri Agung
bunga gurun
oleh Loki (seorang tabib Indian Sioux)
Kisah ini terjadi bermusim-musim panas yang lalu.
Dahulu kala hiduplah setumbuh bunga muda di gurun pasir yang kering dan semuanya tampak muram...Ia tumbuh dengan sendirinya...menikmati hari demi hari dan bertanya kepada matahari, "Kapan aku tumbuh besar?" Dan Matahari menjawab,"Sabarlah! Engkau akan tumbuh sedikit demi sedikit, setiap aku menyentuhmu". Dan si bunga merasa sangat senang karena ia berkesempatan memberikan keindahan pada sudut gurun ini.
Suatu hari seorang pemburu datang, dan menginjaknya. Ia sekarat dan merasa sedih. Bukan karena ia akan mati tapi karena ia tak sempat memberikan sedikit keindahan pada sudut gurun.
Roh Agung melihatnya, dan mendengar ratapannya. Ia berkata, "Sebenarnyalah ia harus hidup!".. Dan Ia merengkuh dan menyentuhnya, memberinya kehidupan.
Dan ia tumbuh sebagai bunga yang cantik...sehingga sudut gurun ini menjadi sangat indah karena keberadaannya.
Kisah ini terjadi bermusim-musim panas yang lalu.
Dahulu kala hiduplah setumbuh bunga muda di gurun pasir yang kering dan semuanya tampak muram...Ia tumbuh dengan sendirinya...menikmati hari demi hari dan bertanya kepada matahari, "Kapan aku tumbuh besar?" Dan Matahari menjawab,"Sabarlah! Engkau akan tumbuh sedikit demi sedikit, setiap aku menyentuhmu". Dan si bunga merasa sangat senang karena ia berkesempatan memberikan keindahan pada sudut gurun ini.
Suatu hari seorang pemburu datang, dan menginjaknya. Ia sekarat dan merasa sedih. Bukan karena ia akan mati tapi karena ia tak sempat memberikan sedikit keindahan pada sudut gurun.
Roh Agung melihatnya, dan mendengar ratapannya. Ia berkata, "Sebenarnyalah ia harus hidup!".. Dan Ia merengkuh dan menyentuhnya, memberinya kehidupan.
Dan ia tumbuh sebagai bunga yang cantik...sehingga sudut gurun ini menjadi sangat indah karena keberadaannya.
hidup adalah pilihan
Ada 2 bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit yang pertama berkata, "Aku ingin tumbuh besar,aku ingin menjejakkan akarku dalam2 di tanah ini dan menjulangkan tunas2ku diatas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari dan kelembutan embun pagi di pucuk2 daunku"...Dan bibit itupun tumbuh,makin menjulang...
Bibit yang kedua berguman..."Aku takut,jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini,aku tak tahu apa yang akan kutemui dibawah sana.Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas,bukankah nanti keindahan tunas2ku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak.Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka,dan siput2 mencoba untuk memakannya? Dan pasti jika aku tumbuh dan merekah,semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak! Akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman"...Dan bibit itupun menunggu dalam kesendirian.
Beberapa pekan kemudian seekor ayam mengais tanah itu,menemukan bibit yang kedua tadi dan menaploknya segera.
Memang selalu ada saja pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon2 yang harus kita jalani. Namun seringkali kita berada dalam kepesimisan,kengerian,keraguan,kebimbangan2 yang kita ciptakan sendiri. Kita kerap terbuai dengan alasan2 untuk tak mau melangkah,tak mau menatap hidup.
Karena hidup adalah pilihan, maka hadapilah itu dengan gagah..Dan karena hidup adalah pilihan,maka pilihlah dengan bijak...
Bibit yang kedua berguman..."Aku takut,jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini,aku tak tahu apa yang akan kutemui dibawah sana.Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas,bukankah nanti keindahan tunas2ku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak.Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka,dan siput2 mencoba untuk memakannya? Dan pasti jika aku tumbuh dan merekah,semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak! Akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman"...Dan bibit itupun menunggu dalam kesendirian.
Beberapa pekan kemudian seekor ayam mengais tanah itu,menemukan bibit yang kedua tadi dan menaploknya segera.
Memang selalu ada saja pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon2 yang harus kita jalani. Namun seringkali kita berada dalam kepesimisan,kengerian,keraguan,kebimbangan2 yang kita ciptakan sendiri. Kita kerap terbuai dengan alasan2 untuk tak mau melangkah,tak mau menatap hidup.
Karena hidup adalah pilihan, maka hadapilah itu dengan gagah..Dan karena hidup adalah pilihan,maka pilihlah dengan bijak...
Langganan:
Postingan (Atom)

